Langkah Awal Menuju Kesuksesan Berawal Dari Sini

Mei 7, 2018 oleh : superadmin-pai

“ Experience is the Teacher Of all Things (pengalaman adalah guru semua hal)”
Julius Caesar

 

Semua berawal dari bagaimana kita memulai, bagaimana kita melangkah, bagaimana jalan kita menuju arah yang kita mau. Ke negara tetangga mungkin itu suatu yang biasa (bagi sebagian orang). Bahkan sebelum saya berangkat ke Malaysia ada yang berkata kepada saya “buat apa Zam ke Malaysia? Tanggung banget udah disini aja. Toh, orang Malaysia itu belajar dari kita” sempat terlintas dibenak saya untuk mengiyakan perkataan itu tapi saya sudah memikirkan kenapa saya memilih ikut Exchange. Di dalam hati saya mengatakan “memang itu negara tetangga, memang orang-orang sana belajar ke Indonesia tapi apakah semua orang bisa ke Malaysia? Apakah mungkin orang lain bisa melakukan itu?” suatu prestasi yang besar bagi saya dan suatu gambaran bahwasanya saya juga bisa membuat bangga orangtua. Mungkin, orangtua saya akan mengatakan didalam hatinya “Masya Allah anakku bisa mendahuluiku di umurnya yang 19 tahun bisa ke negeri orang” coba bayangkan betapa bangganya orangtua kita.

Dulu timbul rasa iri kepada teman-teman yang bisa ke luar negeri. Rasa iri itu timbul ketika saya berada di posisi semester 3 di UMY. Ketika di kelas saya termenung dan berfikir “kapan yaa kira-kira saya bisa menyusul mereka?”. Disertai rasa ingin yang kuat, ikhtiar yang kuat dan tidak lupa mendiskusikan hal ini kepada Allah sang pencipta. Yaa begitu, tak ada yang tak mungkin jika Allah mau. Yaa, itulah prinsip saya, saya tau bahwa Allah akan memberikan apa yang kita mau. Akan tetapi tidak semudah itu Allah akan langsung berikan, ada tahapan tahapan yag harus kita lakukan agar apa yang kita mau akan Allah berikan. Jadi, Hampir di setiap sepertiga malam saya habiskan waktu saya untuk bangun dari tidur kemudian Sholat tahajud. Setelah tahajud langsung saya berdoa kepada Allah untuk mengabulkan permohonan saya. Setiap malam jika bangun saya lakukan itu dibarengi dengan usaha mencari-cari link kira-kira dimana ada program keluar negeri. Akhirnya saya coba untuk diskusikan hal ini kepada KAPRODI saya yaitu Ustadz Naufal Ahmad Rijalul Alam.

Saya jelaskan kepada beliau bahwasanya saya ingin mencari pengalaman yang lain selain ini. Saya jelaskan kepada beliau secara terbuka bahwasanya saya merasa bosan dengan kuliah yang hanya seperti ini. Akhirnya Ustadz Naufal dengan senyuman yang khas menanya balik kepada saya. Kira-kira seperti ini “Zamzam bilang bosan di kuliah emang sudah merasa ilmunya banyak? Apakah yang disampaikan oleh dosen sudah kamu pahami?” dan masih banyak lagi. Setelah pertanyaan itu dilontarkan kepada saya seketika itu tertunduk kepala saya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Gelengan kepala itu menandakan bahwasanya masih banyak ilmu yang harus saya cari disini, masih banyak ilmu yang masih saya belum pahami. Setelah itu Ustadz Naufal langsung menepuk pundak saya sambil mengatakan “kamu mau keluar negeri? Insya Allah hari ini kami akan membuka pendaftaran untuk mahasiswa yang mau ikut program Student Exchange transfer kredit” dengan semangat saya menjawab “siap ustadz” akhirnya saya pamit dan langsung pergi keluar ruangan untuk melihat ke papan pengumuman pendaftaran Student Exchange. Saya catat apa saja kira-kira berkas yang diperlukan untuk mendaftar kegiatan transfer kredit ini.

Setelah saya catat apa-apa saja berkas yang dibutuhkan akhirnya lengkaplah berkas-berkas tersebut dalam dua hari. Akhirnya saya bergegas pergi ke ruang TU (Tata Usaha), dengan mengucapkan “Bismillahirrohmaanirrohiim” saya kumpulkan berkas-berkas persyaratan yang dibutuhkan kepada mba Laili. Alhamdulilah tahapan satu saya berhasil.
Seminggu menunggu hasil pengumuman seleksi berkas saya sengajakan diri saya dengan banyak mengerjakan tugas dari dosen, membaca artikel -artikel dan tidak lupa pula membaca Al-Qur’an. Di setiap malam saya bangun lalu berdoa kepada Allah supaya Allah memberikan yang terbaik kepada saya.

Seminggu kemudian pengumuman seleksi berkas pun diumumkan dan Alhamdulillah saya termasuk didalamnya. Sekiranya ada 10 orang yang diterima dalam seleksi berkas itu. Beberapa hari kemudian saya dan kawan-kawan mendapat pesan melalui via Whatsapp untuk bisa datang ke Gedung F6 lantai 2 untuk mengikuti ujian lisan. Ujian lisan tersebut dimulai pada jam 09.00 pagi sampai selesai. Dalam ujian tersebut ada dua sesi ujian lisan yaitu:
• Ujian lisan Bahasa Arab
Pada sesi ujian Bahasa Arab peserta akan diuji oleh Ustadz Fajar Ramadhani. Dalam sesi ujian tersebut kami diminta untuk memperkenalkan diri kepada penguji menggunakan
Bahasa Arab kemudian kami ditanya beberapa hal mengenai cita-cita dan tujuan mengikuti seleksi Student Exchange ini. Tentu dalam sesi tersebut full mengunakan Bahasa arab. Lalu kami diuji seberapa paham dan mengertikah dia dalam ilmu Bahasa Arab dan berapa banyakkah kosa kata yang sudah dihafalkan.

• Ujian lisan Bahasa Inggris
Sama seperti ujian lisan Bahasa arab kemampuan berbahasa inggris kami juga sangat menentukan kelayakan kami dalam mengikuti program Student Exchange.Dalam hal itu yang akan diuji salah satunya adalah Grammar, Conversation, vocabulary dan lain-lain. Ujian ini diuji langsung oleh ibu Ratna Sari. Setelah ujian lisan Bahasa Inggris selesai penguji meminta kami untuk berkumpul di satu tempat yang kemudian penguji memberi kami satu persatu kertas folio kosong yang mana kami diminta untuk membuat karangan singkat mengenai diri sendiri dan tujuan mengikuti program Student Exchange dan tentunya menggunakan Bahasa Inggris.

Setelah ujian lisan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris selesai kami diberi waktu istirahat sekalian untuk melaksanakan sholat dzuhur. Setelah sholat dzuhur kami diminta mempersiapkan diri untuk mengikuti sesi wawancara. Dalam wawancara ini kami ditanya dengan berbagai pertanyaan, yang mana pertanyaan-pertanyaan itu yang sangat memiliki sangkut paut pada kepribadian, yang dimaksud adalah bisa jadi dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat menampakkan bagaimana kepribadian seseorang tersebut mulai dari kepribadiannya, tingkah lakunya kedisiplinannya dan lain-lain. Akhirnya tibalah waktunya kami diuji, pada sesi wawancara hari itu kami diuji dengan beberapa dosen. Berbeda dengan sesi ujian lisan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris yang mana hanya diuji oleh satu dosen saja sesi wawancara ini akan dipegang oeh tiga pewawancara yaitu dosen itu sendiri. Dosen-dosen itupun antara lain Ustadz Yusuf A. Hasan, Ustadz Sadam Fajar Shodiq dan Ustadz Naufal Ahmad Rijalul Alam.

Tibalah saatnya sesi wawancara, satu persatu dipanggil untuk memasuki ruang micro teaching yang mana kami langsung dihadapkan dengan 3 orang dosen. Dimulai dengan memperkenalkan diri terlebih dahulu seperti nama, asal tempat lahir, tanggal bulan tahun lahir dan sebagainya. Biasanya dalam situasi ujian seperti ini sangat diperhatikan adab ketika masuk ke kelas, cara berbicara dan tak lupa juga dengan penampilan karena ini bisa masuk dalam nilai lebih pada sesi wawancara. Berbagai macam pertanyaan dilontarkan dari dosen pewawancara mulai dari bagaimana kesehariannya. Pertanyaan yang masih saya ingat salah satunya adalah “kalau kuliah kamu telat atau tidak? Subuh sering telat atau tidak? “ tentu saya jawab dengan cepat “Alhamdulillah saya jarang telat ustadz. Subuh pun insyaAllah siap-siap saja sebab saya tinggal ditempat yang dekat dengan masjid. Jadi jika adzan selalu bangun lalu langsung persiapan ke masjid. Sambil bercanda saya jelaskan walaupun terkadang bangun sekejap hanya untuk mematikan alarm lalu melanjutkan tidur hehehe”

Banyaknya pertanyaan dilontarkan sehingga lupa apa saja yang ditanyakan. Disamping memberi pertanyaan dosen pewawancara juga memberi nasehat dan motivasi dalam belajar. Waktu itu ustadz yusuf bertanya kepada saya “Apa kamu sudah minta izin orang tua untuk mengikuti kegiatan Student Exchange ini? Zamzam apa kamu sudah beritahu ke orang tua kamu bahwa di Malaysia biaya hidupnya lebih tinggi dan tidak sama seperti di Indonesia?” tentu saya jawab dengan jawaban yang menurut saya dapat membuat para dosen percaya dengan jawaban saya. Saya menjawab “ Sudah ustadz, alhamdulillah saya sudah beritahu ke orangtua Zamzam dan mereka memperbolehkan karena alhamdulillah orangtua tau bagaimana kondisi kehidupan di Malaysia.” Sambil mengutip perkataan orangtua saya kepada saya yaitu “ Apapun pilihan mu nak, selama itu baik dan berguna kita akan selalu dukung dan kita bantu” dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan selanjutnya saya menjawab seperti yang saya kutip dari perkataan orangtua saya. Saya menjawab “InsyaAllah orangtua saya dukung mengenai ini karena orangtua juga sudah tau kondisi diMalaysia seperti apa jadi InsyaAllah itu tidak sama sekali memberatka orangtua selama apa yang saya kerjakan itu bermanfaat bagi diri saya dan orang lain dan tentunya apa yang saya kerjakan itu berguna”

Mungkin itu pertanyaan-pertanyaan yang saya ingat pada saat sesi wawancara tersebut. Dari pengalaman sesi wawancara ini saya langsung teringat dengan mata pelajaran yang dulu saya sempat pelajari pada saat kelas 2 KMI (Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah) di Pondok modern Darussalam Gontor Ponorogo yang tepatnya kita sebut kelas 2 (dua) SMP (Sekolah Menengah Pertama) jika sekolah umum.
Meskipun lupa isinya secara detail tapi saya bisa mengambil sedikit pelajaran dari apa yang sudah saya pelajari disana. Di pondok modern saya mempelajari buku yang biasa disebut”المطالعة” (Al-Muthoola’ah). Didalam kitab Al-Muthoola’ah berisi berbagai cerita menarik yang mana cerita tersebut diubah menggunakan bahasa Arab dan tentu banyak kosa kata baru yang kami dapatkan dari sana. Kebetulan materi pelajaran Muthoola’ah itu sama seperti sesi wawancara tersebut judul ceitanya adalah (الأدب أساس النجاح) adab adalah Asas dari kesuksesan, yang mana didalam buku Muthoola’ah itu menceritakan kisah beberapa orang yang mengikuti sesi wawancara di satu perusahaan besar yang mana perusahaan itu membutuhkan sekretaris untuk melanjutkan kegiatan perusahaan tersebut. Jika ingin masuk maka harus mengikuti beberapa tahapan sesi ujian dan salah satunya dalah ujian wawancara. (Tulisan Muhammad Firdaus Zamzam)