Dream is Hope and Indonesia is Love

Maret 22, 2018 oleh : superadmin-pai

 

 “Jika engkau tidak memiliki rencana yang jelas, maka engkau akan masuk dalam rencana orang lain.Dr. Shalah Shalih ar Rasyid.

Semua berawal dari mimpi dan impian. Ada beberapa orang ketika melakukan sesuatu selalu di planning. Dari hal yang kecil hingga persoalaan besar. Mimpi merupakan tujuan. Dari beberapa orang, ada yang sengaja menuliskan mimpinya atau hanya sekedar mampir dalam ingatan. Tidak ada anjuran untuk menulis dan tidak menulis. Semua itu adalah pilihan. Bagi orang yang sistematis akan sangat memungkinkan dan memudahkan mereka untuk menulis semua impiannya dan berpacu pada apa yang ditulis. Hal itu untuk melihat sudah sejauh mana yang ia capai, pun sebaliknya bagi orang yang suka simple, tidak menulis bagi mereka tidak apa- apa. Mana yang memudahkan silahkan dilakukan asalkan impian itu bisa menjadi kenyataan.

Namun, bermimpi adalah alasan yang menghantarkan saya disini. Di Malaysia, tepatnya di University of Malaya dalam mengikuti program transfer credit semester, lebih tepatnya mengikuti program Student Exchange selama satu semester. Exchange seperti ini merupakan salah satu program dari jurusan/faculty saya yaitu Pendidikan Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Melihat kutipan dari seorang tokoh Dr. Shalah Shalih ar Rasyid di atas, menyadarkan bahwa hidup itu butuh mimpi, butuh planning atau sebuah perencanaan. Kita memiliki perjalanan kehidupan kita sendiri maka menjadi tokoh utama dalam kehidupan kita itu pasti. Namun, bila kita memiliki kehidupan hanya menjadi tokoh pembantu, apakah tidak sayang sekali? Memiliki perencanaan yang jelas dalam kehidupan kita maka tidak akan membawa kita kepada perencanaan orang lain. Percaya? Buktikan saja. Bermimpilah saja untuk memeluk bulan. Bermimpilah saja setinggi-tingginya. Bermimpilah sebanyak-banyaknya. Mana tahu dalam 10 mimpi yang kalian impikan ada 2,5, bahkan 8 yang terwujud. Siapa sangka?

Program exchange ini sudah saya targetkan sejak beberapa tahun silam, saat saya masuk ke Universitas ini. bermula dari keinginan belajar untuk mengenali pelajaran daripada pendidikan diluar negri. Alhamdulillah Allah kabulkan. Tentu, semua bermula dari mimpi. Mentargetkan sesuatu lalu mengikhtiarkan sesuatu itu menjadi mimpi yang terwujud hingga nyata. Alasan kenapa memilih luarnegri dan bukan negri sendiri adalah karena cinta. Bukan karena tak cinta Indonesia, justru saya cinta Indonesia dan sangat cinta.

Lalu?

Logikanya seperti ini, apabila kamu ingin menghendaki sesuatu itu berubah dan berkembang tentu yang harus kamu lakukan adalah membuat dirimu berkembang dahulu. Seperti halnya kita selesai pada diri kita sendiri baru menghantarkan perubahan untuk orang lain. Membuat diri sendiri bisa berkembang lalu memberikan output baik untuk negeri sendiri. Mencari pengalaman yang lebih dan yang tidak bisa di dapatkan di negri sendiri kemudian mengambil yang terbaik hingga hal itu bisa menjadi inovasi atau membandingkan dengan Negara sendiri lalu mengimplementasikan atau bahkan bisa menjadi muhasabah untuk negri sendiri. Intinya kita berkembang lalu memberikan perkembangan untuk negri sendiri. itulah cinta negri menurut saya sendiri.

Sekarang adalah waktu dimana saya dan teman-teman yang lainnya untuk berusaha membuktikan kecintaan kepada negeri sendiri dengan sungguh-sungguh belajar di negri orang untuk memberikan kebaikan di negeri sendiri. mungkin masih sangat abstrak. Tapi, kembali kepada tujuan awal adalah mengikuti perkuliahan adalah amanah yang harus terpenuhi. Semoga dengan kami bisa belajar dan mendapatkan pengalaman menarik untuk memberikan feedback yang baik juga bagi negri yang tercinta Indonesia. Mungkin secuil mimpi kami untuk Indonesia tapi besar sekali cinta kami untuk Indonesia. (Vita Septi Susanti)